
Sumbawa, SamantaNews.Com — Di banyak daerah, tambang rakyat sering dianggap sebagai jalan pintas untuk memperbaiki perekonomian keluarga. Dalam hitungan hari, masyarakat bisa merasakan hasil yang mungkin tidak diperoleh dari bertani, beternak, atau berdagang. Tambang rakyat telah menjadi dorongan ekonomi baru bagi sebagian warga, memberi pekerjaan, memberi harapan, dan memberi pemasukan.
Namun, di balik keuntungan cepat itu, tersimpan pertanyaan besar yang jarang kita renungkan: “Siapa yang sebenarnya menanggung rugi jangka panjangnya?”
Keuntungan yang Menggiurkan, Tapi Tidak Selamanya
Tidak bisa dipungkiri, tambang rakyat memberi manfaat langsung:
Membuka lapangan pekerjaan
Mendorong perputaran ekonomi lokal
Memenuhi kebutuhan keluarga dalam waktu cepat
Menjadi sumber pendapatan bagi desa-desa terpencil
Di beberapa tempat, tambang rakyat bahkan dianggap penyelamat ekonomi ketika sektor lain lesu.
Tetapi, keuntungan itu sering kali relatif singkat. Ketika sumber mineral habis atau harga turun, masyarakat kembali pada kondisi semula, bahkan terkadang lebih buruk.
Kerugian yang Pelan, Tapi Pasti
Inilah sisi yang paling jarang dibicarakan.
Tambang rakyat, ketika tidak dikelola dengan aturan dan teknologi yang benar, membawa kerugian besar:
Kerusakan tanah dan hilangnya lahan produktif
Pencemaran air sungai dan mata air
Tanah longsor dan banjir bandang
Gangguan kesehatan akibat merkuri atau bahan kimia berbahaya
Hilangnya habitat satwa dan kerusakan ekosistem
Kerusakan itu datang perlahan, tanpa suara keras. Tapi ketika dampaknya muncul, biayanya jauh lebih besar dari hasil tambang itu sendiri.
Di sinilah pertanyaan lain muncul:
“Jika manfaatnya sementara, apakah layak kita mengorbankan lingkungan yang harus diwariskan ke anak cucu?”
Manfaat Jika Dikelola Baik, Bencana Jika Asal-Asalan
Tambang rakyat sebenarnya bukan masalah, yang menjadi masalah adalah cara mengelolanya.
Jika tambang dilakukan dengan:
Penataan lahan yang benar
Teknologi ramah lingkungan
Pengawasan pemerintah
Pembagian hasil yang adil
Reklamasi setelah selesai
maka tambang rakyat bisa menjadi sumber ekonomi yang berkelanjutan.
Tetapi jika dilakukan tanpa kendali, tanpa SOP, dan tanpa kesadaran lingkungan, maka masa depan desa akan dipenuhi:
Lubang-lubang raksasa yang tak tertutup
Sungai keruh dan beracun
Lahan mati yang tak bisa ditanami
Risiko bencana alam meningkat
Dan yang paling menyakitkan:
kerusakan itu kelak ditanggung oleh generasi yang tidak pernah ikut menikmati hasil tambang.
Lalu, Kita Mau Membawa Desa Ini ke Arah Mana?
Narasi tentang tambang rakyat bukan hanya soal pro atau kontra. Ini soal bagaimana kita menyeimbangkan:
ekonomi hari ini
dengan
kelestarian masa depan.
Masyarakat, pemerintah, tokoh adat, akademisi, hingga generasi muda harus terlibat dalam diskusi ini. Bukan untuk saling menyalahkan, tapi mencari jalan tengah yang adil.
Karena pada akhirnya, tambang rakyat adalah pilihan bersama.
Dan alam yang rusak atau lestari—itu juga hasil keputusan bersama.
Pertanyaan untuk Memulai Diskusi:
Apakah masyarakat siap menghentikan tambang jika terbukti lebih banyak mudarat daripada manfaat?
Apakah keuntungan tambang rakyat saat ini sebanding dengan risiko kerusakan alam di masa depan?
Jika tambang tetap berjalan, model pengelolaan seperti apa yang paling ideal untuk desa kita?
Siapa yang bertanggung jawab memperbaiki kerusakan lingkungan jika terjadi?
Penulis Opini : Zacky Azhura
