
Sumbawa, NTB. SamantaNews.Com – Suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti pelaksanaan reses hari kedua Anggota DPRD Sumbawa, Sandi, S.Pd., MM, di RT 03, RW 07, Lingkungan Karang Untir, Kelurahan Brang Biji, Kecamatan Sumbawa, Rabu malam (11/02/2026). Kegiatan yang digelar di titik kedua ini menjadi bukti nyata kedekatan wakil rakyat dengan konstituennya.
Politisi Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia yang juga duduk di Komisi IV DPRD Sumbawa ini kembali menegaskan bahwa reses bukan sekadar agenda seremonial.
“Ini adalah ajang silaturrahmi sekaligus ruang bagi Bapak Ibu untuk menyampaikan langsung apa yang menjadi keluh kesah. Aspirasi yang tidak sempat tersampaikan ke pemerintah daerah, kami tampung di sini,” ujar Sandi mengawali dialog.
Sandi mengapresiasi tingginya antusiasme warga yang hadir di reses malam tersebut. Menurutnya, kehadiran masyarakat membuktikan bahwa warga Karang Untir memiliki kepedulian luar biasa terhadap kemajuan lingkungannya.
“Kolaborasi eksekutif, legislatif, dan masyarakat adalah harga mati untuk perubahan. Warga menyampaikan ke kami, dan kami akan menyuarakannya ke eksekutif sebagai eksekutor,” tegasnya.
Sejumlah aspirasi krusial mengemuka dalam reses yang berlangsung hingga larut malam tersebut. Ketua RT setempat membuka suara terkait persoalan layanan kesehatan. Ia menyoroti maraknya penonaktifan kartu BPJS gratis (PBI) tanpa pemberitahuan.
“Kondisi masyarakat kami di sini rata-rata masih sangat layak menerima bantuan iuran. Namun tiba-tiba dinonaktifkan tanpa sosialisasi. Tidak ada surat, tidak ada pemberitahuan. Ini yang membuat warga kebingungan,” keluhnya.
Tak hanya soal kesehatan, persoalan infrastruktur juga menjadi perhatian utama. Ketua RW mengungkapkan bahwa genangan air kerap melumpuhkan aktivitas warga saat hujan turun. “Kami butuh sambungan drainase sepanjang 100 meter. Setiap hujan, jalan dan pekarangan warga tergenang,” paparnya.
Aspirasi segar datang dari kalangan pemuda. Karang Taruna Karang Untir mengusulkan penyediaan kendaraan roda tiga untuk pengangkutan sampah. Lebih dari itu, mereka juga mendorong pemerintah untuk membenahi Makam Putih Geti.
“Kami ingin makam ini tidak hanya dibenahi, tetapi juga dijadikan situs bersejarah dan destinasi wisata religi. Ini potensi besar yang belum tersentuh,” ujar perwakilan pemuda.
Sektor ekonomi tak luput dari perhatian. Warga berharap adanya bantuan untuk kelompok ternak, UMKM, serta perlengkapan seperti terop, kursi, hingga beasiswa pendidikan tinggi. Menariknya, Istri Ketua RW menambahkan usulan khusus berupa bantuan alat dapur dan perlengkapan prasmanan atau catering untuk menunjang kegiatan sosial warga.
Menanggapi deretan aspirasi tersebut, Sandi memastikan seluruh masukan akan diperjuangkan di parlemen. “Tugas kami di DPRD adalah menyuarakan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Namun kami juga paham, eksekusi ada di tangan pemerintah daerah dengan melihat skala prioritas dan kemampuan keuangan daerah. Insyaallah, kami akan ikhtiar maksimal berkoordinasi dengan dinas terkait selaku leading sektor,” pungkas Sandi.
Reses malam itu menjadi penegas bahwa suara kecil dari Karang Untir telah didengar, dan akan diperjuangkan di gedung DPRD hingga ke leding sektor terkait. (**)
