
Sumbawa Besar, NTB, Samantanews.com — Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dampak perubahan iklim terus digencarkan. Pada Kamis (2/4/2026), Plan Indonesia melalui Program CERAH kembali menggelar Workshop Rencana Aksi Adaptasi Perubahan Iklim berbasis pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kecamatan Lantung, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari kelompok tani, pemuda-pemudi, tokoh agama (toga), tokoh masyarakat (toma), hingga para kepala desa se-Kecamatan Lantung. Turut hadir pula Camat Lantung beserta jajaran pemerintah kecamatan.
Workshop ini merupakan bagian dari kolaborasi antara Plan Indonesia, Australia Aid, dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa dalam Program CERAH. Program ini bertujuan mendorong pemahaman masyarakat terhadap perubahan iklim serta dampaknya terhadap lingkungan, seperti banjir, kekeringan, dan tanah longsor akibat kerusakan alam.
Camat Lantung, Safruddin, S.Pt., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal yang positif bagi wilayahnya. Ia menuturkan bahwa seluruh desa di Kecamatan Lantung dilalui aliran sungai, meskipun sebagian besar berada di wilayah hulu yang relatif aman dari banjir.

Namun demikian, ia menyoroti persoalan serius terkait ketersediaan air bersih. “Kecamatan kami masih menghadapi masalah air bersih. Setiap desa bahkan harus mengeluarkan anggaran hingga Rp60 juta sampai Rp70 juta untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Kami berharap ke depan ada program strategis yang mampu memberikan solusi nyata,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang II BPBD Kabupaten Sumbawa, Dr. Rusdianto, yang hadir sebagai pemateri, menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap perubahan iklim yang semakin nyata.
“Perubahan iklim saat ini sangat berbeda dibandingkan dulu. Jika dahulu suatu wilayah tidak mengalami banjir, namun kini terjadi banjir, itu menandakan adanya perubahan pada kondisi alam kita yang berdampak pada iklim lokal,” jelasnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan sebagai langkah preventif dalam mengurangi risiko bencana. Menurutnya, lingkungan yang terjaga akan menciptakan kondisi yang lebih aman dari ancaman banjir, longsor, maupun kekeringan.
Di sisi lain, fasilitator Plan Indonesia, Yadi, menegaskan bahwa pembangunan desa harus dilakukan secara kolaboratif. “Membangun desa tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Harus dikeroyok bersama-sama oleh semua elemen,” katanya.

Saat ini, lanjut Yadi, Plan Indonesia tengah mendampingi 16 desa di Kabupaten Sumbawa, dan pada tahun ini Kecamatan Lantung menjadi salah satu fokus wilayah program.
Dukungan juga datang dari tokoh masyarakat setempat, Tonil Seran. Ia menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut dan berharap hasil diskusi dapat segera diwujudkan dalam aksi nyata.

“Kami sangat mendukung kegiatan ini. Semoga apa yang didiskusikan hari ini bisa direalisasikan demi kebaikan bersama. Terima kasih Plan Indonesia,” ucapnya.
Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi langkah konkret dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim, sekaligus mendorong pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan di Kabupaten Sumbawa. (SN)
