
SUMBAWA BESAR, NTB, Samantanews.com — 5 APRIL 2026 – Suasana khidmat menyelimuti Istana Bala Kuning pada Minggu malam (5/4). Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP, yang juga menyandang gelar adat Dea Pati Kanadi Ling Samawa, menghadiri acara Dzikir dan Doa Bersama dalam rangka memperingati 15 tahun Penobatan sekaligus Malikelis (ulang tahun) ke-85 Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV.
Bagi Bupati Jarot, momentum ini bukan sekadar seremoni adat, melainkan refleksi mendalam atas jati diri Tau Samawa (orang Sumbawa) di tengah arus modernisasi.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati menyimak dengan seksama Pasatotang (pesan/titah) Sultan yang dibacakan oleh Pariwa Adat LATS, Dr. KH. Lalu Zulkifli Muhadli, SH., MM. Bupati menegaskan bahwa filosofi Adat Barenti Ko Syara’, Syara’ Barenti Ko Kitabullah harus tetap menjadi kompas dalam menjalankan roda pemerintahan dan kehidupan sosial.
“Kehadiran Sultan sebagai Puen Rea adalah pilar yang menjaga marwah Tau ke Tana Samawa. Titah beliau agar kita tetap jernih, tidak goyah oleh provokasi, dan memperkuat persatuan adalah pesan yang sangat relevan bagi kita semua saat ini,” ujar Bupati H.Jarot.
Salah satu poin penting dalam Pidato Kebudayaan yang disampaikan Bupati adalah mengenai hubungan harmonis antara manusia dan alam. Ia menyoroti kearifan lokal Sumbawa yang telah lama mengenal konsep keberlanjutan.
Bupati Jarot memaparkan bahwa nilai-nilai seperti Mole Pade Antap (Keberhasilan panen dan pangan), Balong Ai Kayu (Ketersediaan air dan hutan yang terjaga),
dan Telas Kebo Jaran (Kesejahteraan ternak dan hewan),
Nilai-nilai ini, menurutnya, sangat sejalan dengan visi pemerintah daerah melalui program Sumbawa Hijau Lestari.
“Alam Tana Samawa bukanlah warisan yang bisa kita habiskan begitu saja, melainkan titipan untuk anak cucu. Apa yang kita lakukan di pemerintahan hari ini harus bersinergi dengan nafas kebudayaan kita yang sangat menghargai kelestarian alam,” tegasnya.
Persaudaraan Tanpa Batas: Sumbawa dan KSB
Kehadiran Bupati KSB, H. Amar Nurmansyah, ST., M.Si. (Dea Pati Kanadi Ling Kamutar Telu), dalam acara tersebut juga mempertegas ikatan emosional dan sejarah yang tak terpisahkan antara Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat.
Bupati Jarot sepakat bahwa kedua daerah ini berasal dari akar peradaban yang sama, yakni Kesultanan Sumbawa. Sinergi antara dua pemimpin daerah ini menunjukkan bahwa nilai Basiru (gotong royong) dan Tulung (tolong menolong) tetap hidup dalam pembangunan di wilayah Samawa secara keseluruhan.
Acara yang berlangsung hingga pukul 23.00 WITA ini ditutup dengan ramah tamah yang hangat. Bupati Sumbawa berharap agar semangat takwa dan falsafah Taket Ko Nene, Kangila Boat Lenge (Takut kepada Allah, Malu berbuat buruk) senantiasa menjadi jati diri kolektif demi mewujudkan Sumbawa yang beradab dan bermartabat.
Turut hadir dalam acara ini Wakil Bupati Sumbawa (Wakil Dea Pati Kanadi Ling Samawa), Drs. Mohamad Ansori beserta istri; Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa, Dr. Budi Prasetiyo, S.Sos., M.A.P.; Kepala Bappeda Kabupaten Sumbawa, Dr. Dedy Heri Wibowo, S.Si., M.Si.; dan sejumlah tokoh masyarakat Sumbawa dan KSB.
hadir pula pegiat adat dalam internal LATS yang terdiri dari: Pariwa Adat LATS yaitu Dr. KH. Lalu Zulkifi Muhadli, SH., MM. dan Muhammad Yakub Daeng Kusuma Dewa, S.Sos; Sekretaris Majelis Adat LATS: Yuli Andari Merdikaningtyas, MA; Ketua Dewan Syara’ LATS: Dea Guru Syukri Rahmat, S.Ag., M.M.Inov.; Ketua Pajatu Adat LATS: Dr. Muhammad Ikhsan Safitri, M.Si; Anggota Dewan Adat LATS yang terdiri dari para sesepuh Kesultanan Sumbawa; Pajatu Adat LATS Kabupaten Sumbawa dan LATS Kamutar Telu (Kabupaten Sumbawa Barat). (SN)
