
Sumbawa Besar, NTB, Samantanews.com — Ratusan juta rupiah digelontorkan pemerintah daerah untuk merehabilitasi Puskesmas Pembantu (Pustu) di Dusun Tanjung Bele, Desa Olat Rawa, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa pada akhir tahun 2025. Namun faktanya, bangunan yang telah direnovasi dengan anggaran besar itu kini nyaris tak berfungsi—bahkan menjadi tempat hantu dan ternak.
Kondisi memprihatinkan ini mendapat sorotan tajam dari Anggota DPRD Sumbawa Fraksi Partai Gelora, Sandi, S.Pd., MM. Politisi yang juga duduk di Komisi IV DPRD Sumbawa yang membidangi masalah kesehatan itu mengungkapkan kekecewaannya saat mendengar dan meninjau langsung lokasi Pustu tersebut, Rabu (08/04/2026).
“Pustu ini adalah bagian integral dari Puskesmas induk yang seharusnya dibina secara berkala. Fungsinya melayani layanan kesehatan dasar seperti pengobatan umum, penyuluhan, pemeriksaan, imunisasi, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), serta Keluarga Berencana (KB),” jelas Sandi.
Namun menurutnya, realita di lapangan jauh dari harapan. Rata-rata desa yang memiliki Pustu di Kabupaten Sumbawa tidak berfungsi optimal. Pustu Tanjung Bele menjadi contoh paling memilukan karena setelah direhab dengan biaya besar, bangunan itu tidak diisi tenaga medis atau petugas kesehatan sama sekali.
“Ini sangat kita sayangkan. Pustu sudah baik dan bagus, tapi satupun penghuni tidak ada. Malah hanya ditempati hantu dan hewan ternak,” tegas Sandi dengan nada kesal.
Dia membeberkan bahwa Pustu merupakan unit pelayanan kesehatan yang menjadi jaringan pelayanan Puskesmas. Keberadaannya bertujuan untuk meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan dasar di desa atau Dusun yang jauh dari fasilitas Puskesmas. Tanpa petugas, semua tujuan mulia itu sirna.
“Banyak warga yang mengeluh terkait keberadaan Pustu ini. Masyarakat sakit tidak ada pelayanan medis, bahkan penghuni Pustu tidak ada padahal bangunannya sangat layak ditempati,” ujar politisi Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia ini.
Sandi menegaskan bahwa warga Dusun Tanjung Bele dan sekitarnya terpaksa memaksakan diri berobat ke Puskesmas induk yang berada di kecamatan. Jarak tempuh yang jauh dan akses transportasi yang terbatas menjadi beban tambahan bagi masyarakat yang sedang sakit.
“Kasihan masyarakat yang sakit harus memaksakan diri ke Puskesmas di kecamatan, padahal seharusnya bisa ditangani di Pustu. Kami minta Pemerintah Daerah jangan tutup mata,” tegasnya.
Sebagai wakil rakyat, Sandi berjanji akan terus menyuarakan persoalan ini. Ia akan membawa permasalahan Pustu yang tak berfungsi optimal ke dalam forum resmi DPRD dan memasukkannya dalam pandangan fraksi.
“Kami minta dengan tegas Pemerintah jangan abai terhadap kesehatan masyarakat yang jauh dari puskesmas. Maksimalkan seluruh Pustu yang ada,” pungkas Sandi.
Politisi yang Pokal menyuarakan aspirasi rakyat ini juga mengingatkan akan pentingnya peningkatan standar pelayanan kesehatan, peningkatan kualitas tenaga medis, serta optimalisasi layanan Puskesmas termasuk Pustu.
“Kami mendukung langkah perbaikan dan pembenahan disegala aspek kesehatan dari Pemerintah terutama dalam penanganan medis bagi masyarakat hingga ke pelosok terpencil sumbawa,” tutup Sandi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa dan Pemerintah Kecamatan Moyo Hilir belum memberikan tanggapan resmi terkait temuan ini. Namun warga berharap ada tindak lanjut nyata agar Pustu yang telah dibangun dengan uang rakyat benar-benar memberikan manfaat bagi kesehatan masyarakat desa. (SN)
