Mataram, SamantaNews.com — Pendidikan di Indonesia: Tinggi Nilai, Rendah Makna
Oleh: Dayyan Zakky Salam
(Ketua Umum Forum Mahasiswa Hukum Samawa Universitas Mataram)
Pendidikan kerap disebut sebagai kunci kemajuan bangsa. Namun realitas di Indonesia menunjukkan bahwa sistem yang berjalan masih jauh dari kata ideal. Sekolah sering kali sekadar rutinitas administratif: murid berangkat sekolah, guru mengajar sesuai kurikulum, rapor terisi angka, lalu murid lulus.
Tetapi makna sejati pendidikan—membentuk manusia merdeka dan berpikir kritis—sering hilang di tengah jalan.
1. Kesenjangan yang Dipelihara
Setiap tahun pemerintah bicara tentang pemerataan, tetapi kenyataan di lapangan begitu ironis. Sekolah di kota besar sibuk mengejar akreditasi dan fasilitas canggih, sementara di pelosok, murid belajar di bangunan reyot dengan buku seadanya. Bukankah ini bentuk pengkhianatan terhadap amanat konstitusi yang menjamin hak pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia?
2. Guru yang Tak Dihargai
Guru dituntut menjadi motor perubahan, tetapi kesejahteraan mereka justru terpinggirkan. Guru honorer digaji tidak layak, sementara guru PNS dibelenggu birokrasi. Bagaimana mungkin kita berharap lahir generasi emas dari sistem yang bahkan tidak menghargai pendidiknya?
3. Kurikulum yang Tak Pernah Konsisten
Setiap pergantian menteri membawa eksperimen baru dengan nama berbeda: KTSP, K-13, Merdeka Belajar. Namun substansi sering tak menyentuh akar masalah. Kita sibuk memoles dokumen kebijakan, tetapi lupa bahwa pendidikan sejatinya ditentukan oleh praktik nyata di kelas.
Orientasi yang Salah KaprahIronisnya, orientasi pendidikan masih didominasi angka-angka: nilai ujian, akreditasi, dan ranking sekolah. Padahal dunia kerja menuntut keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta integritas—hal-hal yang jarang tumbuh dalam sistem pendidikan yang kaku dan serba formalitas.
Lulusan yang Gagap Realita
Jika dibiarkan, sistem ini hanya akan melahirkan lulusan yang pandai menghafal, tetapi gagap menghadapi kenyataan hidup. Kita membentuk generasi yang sibuk mengejar ijazah, bukan pengetahuan.
Saatnya Revolusi Pendidikan
Pendidikan Indonesia tidak butuh reformasi setengah hati, melainkan revolusi menyeluruh. Revolusi yang dimulai dengan penghargaan kepada guru, pemerataan akses di pelosok, dan keberanian menempatkan pendidikan sebagai investasi jangka panjang—bukan sekadar proyek politik lima tahunan.Tanpa itu, kita hanya akan terus mengulang sejarah: membicarakan mimpi besar bangsa, tetapi gagal membangun fondasi yang kokoh.
