Mataram – SamantaNews.com — Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada triwulan II tahun 2025 mengalami kontraksi sebesar -0,82 persen (y-on-y). Angka ini menempatkan NTB sebagai provinsi dengan kinerja ekonomi terburuk kedua secara nasional, hanya lebih baik dari Papua Tengah yang anjlok hingga -9,83 persen. Sementara Papua Barat juga tercatat minus 0,23 persen.
Kepala BPS NTB, Wahyudin, menjelaskan bahwa kejatuhan ekonomi NTB disebabkan oleh merosotnya kinerja sektor pertambangan biji logam. “Ekonomi NTB ini ditopang tiga sektor besar, yaitu pertanian, pertambangan, dan perdagangan. Tiga sektor ini kontribusinya lebih dari 50 persen untuk ekonomi NTB,” ujarnya, Selasa (30/9/2025).
Menurut Wahyudin, penurunan tajam terjadi pada produksi tambang biji logam milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Pada kuartal II 2025, produksi tambang anjlok hingga 29,93 persen.
“Penurunannya sangat tinggi, hampir sepertiga. Itu karena PT Amman belum bisa memaksimalkan kapasitas produksi. Gudang dan smelter masih terbatas,” jelasnya.
Saat ini, kapasitas maksimal gudang penggalian PT Amman hanya sekitar 300 ribu ton, sementara kapasitas smelter baru berjalan di level 25–30 persen dari total kapasitas 900 ribu ton per tahun. Produksi penuh diprediksi baru akan tercapai dalam dua tahun mendatang ketika smelter dan penggalian beroperasi maksimal.
“Sekitar dua tahun lagi baru bisa produksi penuh. Kalau sudah maksimal, tentu akan mendongkrak ekonomi,” tambah Wahyudin.
Dengan Tambang Minus, Tanpa Tambang Positif
BPS NTB mencatat perbedaan signifikan antara pertumbuhan ekonomi dengan dan tanpa sektor tambang. Dengan tambang, ekonomi NTB terkontraksi -0,82 persen. Namun tanpa tambang, pertumbuhan justru melonjak positif 6,08 persen, naik dari 5,57 persen pada triwulan I 2025.
“Kalau nasional biasanya pakai istilah Migas dan Non-Migas. Di NTB kita pakai Tambang dan Non-Tambang. Jadi kontraksi ini murni disebabkan kinerja tambang,” terang Wahyudin.
Daya Beli Masyarakat Tetap Terjaga
Meski angka pertumbuhan ekonomi NTB tercatat negatif, Wahyudin menegaskan kondisi riil masyarakat tidak sepenuhnya tercermin dari data tersebut. Hal ini karena sektor tambang hanya menyerap sekitar 30 ribu tenaga kerja, jauh lebih kecil dibanding sektor pertanian yang menyerap lebih dari 1 juta pekerja di NTB.
“Kita lihat dari sisi konsumsi rumah tangga, justru naik 4,80 persen. Artinya daya beli masyarakat tetap meningkat,” ungkapnya.
Sementara itu, Penjabat Sekda NTB, Lalu Moh. Faozal, memastikan bahwa kondisi perekonomian masyarakat masih relatif stabil. Ia menegaskan kontraksi ekonomi lebih banyak disebabkan oleh sektor tambang, sementara dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat tidak signifikan.
“Yang terdampak penurunan tambang itu tidak banyak. Daya beli masyarakat masih terjaga. Dampak tambang tidak terlalu meluas ke masyarakat,” jelas Faozal.
Sumber Radarlombok.co.id
