Lunyuk, Sumbawa – SamantaNews.com — Tanggal 19 Agustus 1977, bertepatan dengan hari keempat bulan Ramadan, menjadi hari kelam yang tak terlupakan bagi masyarakat pesisir Lunyuk, Kabupaten Sumbawa. Sekitar pukul 13.30 WITA, usai salat Jumat, bumi tiba-tiba berguncang hebat. Gempa berkekuatan 8,3 Skala Richter yang berpusat di selatan Pulau Sumbawa mengguncang daratan, diikuti dengan tiga kali ledakan keras dari arah laut, sebelum akhirnya gelombang raksasa menerjang dengan kekuatan mematikan.
Air laut yang sebelumnya surut sejauh mata memandang tiba-tiba kembali menghantam daratan, menyapu seluruh permukiman, membawa rumah, manusia, dan harapan dalam satu sapuan air setinggi pohon kelapa.
Kesaksian Sandrang 77 Tahun, Saksi Hidup Lunyuk 1977
Dengan berlinang air mata, Sandrang, salah satu saksi hidup bencana itu, mengenang kembali detik-detik kehancuran tersebut.
“Hari itu hari Jumat, hari keempat puasa. Setelah salat Jumat, bumi berguncang lama sekali, mungkin sekitar sepuluh menit. Setelah itu terdengar suara ledakan tiga kali dari arah laut. Suaranya seperti bom,” ujarnya dengan suara lirih, menatap jauh ke arah laut yang kini tenang namun menyimpan luka sejarah.
Sandrang masih mengingat jelas rentetan peristiwa itu.
“Setelah ledakan ketiga, air laut surut jauh sekali. Rumah saya berjarak sekitar 50 meter dari bibir pantai, jadi saya bisa melihat laut kering. Banyak orang, termasuk anak-anak, turun ke laut mengambil ikan. Kami tidak tahu kalau itu pertanda datangnya tsunami. Dulu kami percaya kalau ada gempa, artinya musim hujan akan tiba,” kenangnya pilu.
Namun hanya setengah jam kemudian, dari tengah laut terdengar suara gemuruh yang sangat keras, diikuti datangnya gelombang besar setinggi pohon kelapa.
“Air datang begitu cepat, menghantam semua rumah panggung di dusun kami. Saya terseret arus, tersangkut di tumpukan kayu bersama beberapa orang. Istri dan anak saya hilang, tak pernah ditemukan,” ujarnya menahan tangis.
Ai Katapang Dusun yang Hilang Diterjang Tsunami
Dusun Ai Katapang, yang saat itu terbagi menjadi dua wilayah Ai Katapang Atas dan Ai Katapang Bawah, dengan sekitar 300 kepala keluarga , luluh lantak diterjang gelombang. Ratusan rumah hilang, hanya menyisakan puing-puing dan suara tangisan di antara reruntuhan.
Aisyah (78 tahun), korban selamat lainnya, juga masih mengingat betapa lama dan kerasnya gempa yang mengguncang Lunyuk hari itu.
“Kami semua berlari keluar rumah, tapi tanah terus berguncang. Setelah gempa berhenti, kami dengar suara seperti bom dari laut. Tidak lama kemudian, air datang menyapu semuanya. Saya kehilangan saudara dan tetangga. Banyak yang tidak sempat lari,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Kesaksian Kepala Dusun Mustaram
Kisah itu diperkuat oleh Mustaram, yang kala itu masih berusia 25 tahun dan menjabat sebagai Kepala Dusun Ai Katapang.
“Selepas salat Jumat, khotibnya waktu itu Pak Koda, imamnya Lebe Abas. Tiga kali letusan dari arah laut, dan tiga kali pula gelombang datang menghantam. Setelah air reda, kami yang selamat lari ke bukit yang kami sebut Sampar Pamanto,” kenang Mustaram.
Sekitar waktu menjelang Asar, air mulai surut. Mustaram kemudian menuju Lunyuk Ode untuk melaporkan kejadian itu kepada Kepala Desa Abdul Rahman Jaraming.
Bantuan Datang dari Langit
Keesokan harinya, Sabtu, 20 Agustus 1977, bantuan datang dari pemerintah pusat. Langit Lunyuk dipenuhi puluhan helikopter yang membawa logistik dan personel penyelamat.
“Banyak yang turun dengan parasut untuk membantu mencari korban,” ujar Sandrang. “Sebagian besar korban dimakamkan secara massal di lahan milik Pak Raki. Itu tanah yang kini menjadi makam kenangan bagi 130 jiwa yang meninggal dunia.”
Namun menurut warga, jumlah korban sebenarnya lebih dari itu, karena banyak jenazah tidak pernah ditemukan hingga kini.
Lunyuk Tidak Pernah Sama Lagi
Kini, hampir setengah abad kemudian, bekas-bekas kehancuran itu mungkin telah tertutup waktu, namun kisah dan luka para penyintas tetap hidup dalam ingatan. Bagi Sandrang dan para saksi lainnya, gempa dan tsunami Lunyuk 1977 bukan sekadar bencana alam, tapi pelajaran berharga tentang ketidakberdayaan manusia di hadapan alam.
“Kami hanya bisa pasrah. Bumi berguncang, laut datang menjemput, dan dalam sekejap semua hilang,” tutup Mustaram dengan pandangan kosong, seolah masih melihat gelombang besar yang dulu menelan desanya.
Tim Mitigasi Gempa Tsunami Lunyuk Sabtu 25 Oktober 2025 Dr. Rusdianto Ar. MP.d Muhammaq Qudsi Bulkiah
Samantanews.com
1 thought on “Dahsyatnya Gempa dan Tsunami Lunyuk 1977: Air Setinggi Pohon Kelapa Menyapu Kehidupan”
Semoga tidak terjadi lagi , AamiinYRA