
Jakarta, Samantanews.vom — Jumlah korban jiwa akibat banjir bandang yang melanda Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar) terus bertambah. Berdasarkan laporan resmi Basarnas, total 105 orang meninggal dunia hingga Rabu malam. Meski demikian, pemerintah pusat belum menetapkan peristiwa ini sebagai bencana nasional.
Dari pendataan Kantor SAR Medan dan SAR Nias, tercatat 83 korban meninggal dunia di Sumatera Utara. Sementara 81 orang lainnya masih dalam pencarian. Korban terbanyak berasal dari Kabupaten Tapanuli Tengah (34 orang) dan Kota Sibolga (30 orang). Hingga kini, sebanyak 677 warga berhasil dievakuasi dari berbagai titik terdampak.
Di Sumatera Barat, Kantor SAR Padang melaporkan 22 korban meninggal dan 12 orang masih hilang. Kabupaten Agam menjadi wilayah dengan jumlah korban tewas terbanyak, yaitu 10 orang. Upaya evakuasi juga terus dilakukan, dengan total 29.152 warga berhasil diselamatkan dari daerah rawan banjir dan longsor.
Sementara itu di Aceh, petugas masih melakukan pendataan jumlah korban jiwa dan orang hilang. Hingga kini, tercatat 645 warga telah dievakuasi. Jumlah pengungsi terbesar berada di Aceh Utara (3.507 orang) dan Aceh Timur (2.456 orang).
Meski angka korban terus meningkat, pemerintah menilai status kebencanaan saat ini belum perlu dinaikkan menjadi bencana nasional. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menyatakan bahwa penanganan sudah dapat dilakukan optimal oleh pemerintah daerah.
“Status kebencanaan masih dianggap sebagai bencana daerah. Tidak ada masalah sejauh ini karena masing-masing daerah sudah menyatakan kondisi darurat bencana,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, tim SAR, BPBD, TNI, Polri, serta relawan masih melakukan pencarian korban dan pendistribusian bantuan ke wilayah-wilayah terdampak. Pemerintah pusat disebut tetap memonitor situasi dan membuka peluang peningkatan status bila diperlukan. (**)
