
Sumbawa Besar. NTB, SamantaNews.Com – Pemerintah Kabupaten Sumbawa mengambil langkah proaktif dalam menghadapi tantangan krisis lingkungan global. Berkolaborasi dengan Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia), Pemkab Sumbawa menyelenggarakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tematik bertajuk “Pengelolaan Lahan Berkelanjutan dan Sumber Daya Air Terpadu untuk Adaptasi Perubahan Iklim” di Sumbawa Besar, Kamis (12/3/2026).
Kegiatan ini dirancang sebagai respons cepat terhadap laju degradasi hutan dan kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah Kabupaten Sumbawa yang kian mengkhawatirkan.
Darurat Konservasi dan Satgas Khusus
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) Kabupaten Sumbawa, Dr. Dedy Heriwibowo, S.Si., M.Si., dalam arahannya menegaskan bahwa keseimbangan alam di Sumbawa tengah berada dalam titik kritis. Ia menyoroti adanya ketimpangan tajam antara pemanfaatan lahan dengan upaya pemulihan lingkungan.
“Saat ini laju eksploitasi lahan jauh melampaui tindakan konservasi. Ketimpangan ini memicu penurunan daya dukung DAS dan secara otomatis meningkatkan risiko bencana bagi masyarakat,” ujar Dr. Dedy.
Sebagai solusi konkret, ia mengumumkan rencana pembentukan satuan tugas (satgas) khusus yang bertugas mencegah kerusakan hutan lebih lanjut. Satgas ini nantinya akan terintegrasi dalam program unggulan daerah, Sumbawa Hijau Lestari.
“Melalui Musrenbang Tematik ini, kita berkomitmen mengidentifikasi titik degradasi lahan secara komprehensif. Tujuannya satu: memperkuat ketahanan hidrologis kita agar siap menghadapi ancaman banjir di musim hujan maupun kekeringan ekstrem di musim kemarau,” tambahnya.
Sinergi Program CERAH dan Inovasi Lahan
Dukungan terhadap langkah pemerintah daerah juga datang dari sektor non-pemerintah. Direktur Program Plan Indonesia, Ida Ngurah, menekankan pentingnya konvergensi program antara pihak internasional dan pemerintah lokal. Ia menyoroti sinergi antara Program CERAH (Cerdas Kelola Air dan Lahan untuk Keberlanjutan) yang didukung oleh ANCP-DFAT dengan Program Sumbawa Hijau Lestari.
“Kolaborasi ini bukan sekadar urusan teknis lingkungan, tapi tentang masa depan. Kami berharap anak-anak di Sumbawa dapat tumbuh di lingkungan yang sehat, di mana kebutuhan dasar mereka terpenuhi dan masa depan mereka terlindungi dari dampak buruk perubahan iklim,” ungkap Ida Ngurah.
Dalam diskusi panel yang berlangsung, forum menyepakati lima isu prioritas yang akan menjadi fokus utama ke depan:
Pertama ; Perlindungan hutan, penjagaan mata air, dan restorasi lahan kritis. Kedua ; Mitigasi dan pengurangan risiko bencana hidrologi. Ketiga ; Pendayagunaan air untuk kebutuhan domestik (air minum dan sanitasi). Keempat ; Pemanfaatan air untuk sektor ekonomi (pertanian, perikanan, dan industri) dan Kelima ; Pemberdayaan masyarakat melalui edukasi serta implementasi agroforestri.
Selain aspek teknis lingkungan, Musrenbang kali ini menekankan paradigma pembangunan inklusif. Pemerintah mendorong penerapan agroforestri sebagai jalan tengah yang memberikan vegetasi permanen bagi bumi sekaligus nilai ekonomi bagi petani.
Koordinasi lintas sektor antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) juga diperkuat guna memastikan kebijakan pengelolaan sumber daya alam tidak lagi berjalan sendiri-sendiri atau tumpang tindih.

Menariknya, forum ini memberikan ruang luas bagi kelompok perempuan, penyandang disabilitas, dan generasi muda. Keterlibatan aktif mereka dianggap kunci agar kebijakan publik—mulai dari akses sanitasi hingga pemberdayaan ekonomi, benar-benar menyentuh kebutuhan spesifik seluruh lapisan masyarakat.
Dengan semangat kolaborasi ini, Kabupaten Sumbawa optimistis mampu mewujudkan tata kelola lingkungan yang tangguh demi mencapai visi Sumbawa yang Unggul, Maju, dan Sejahtera secara berkelanjutan. (SN)
