
Penulis:
Alwan Hidayat, S.Pd.I., NL.P
Mahasiswa Pascasarjana Manajemen Agribisnis, Universitas Samawa (2025)
Sumbawa Besar, NTB, SamantaNews.Com — Palopo, bubur tradisional berbahan dasar susu kerbau, merupakan kuliner khas yang merepresentasikan identitas sejarah dan budaya masyarakat Sumbawa. Pengolahannya sempat mengalami pasang surut akibat terputusnya transmisi pengetahuan antargenerasi, sebelum akhirnya dihidupkan kembali melalui inisiatif industri rumah tangga. Tulisan ini mengkaji palopo dari perspektif historis kritis dengan menelusuri kontinuitas “waktu silam–kini–kelak” melalui analisis asal-usul, perbandingan dengan kuliner serupa di daerah lain, peran para pemangku kepentingan, serta relevansinya terhadap penguatan ekonomi lokal. Dengan kerangka analisis tersebut, tulisan ini berupaya memahami bagaimana palopo bertransformasi dari sajian tradisional menjadi potensi ekonomi yang relevan di era modern.
Pendahuluan
Sejarah merupakan kunci untuk memahami kesinambungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Melalui pembacaan sejarah, kita dapat melakukan “dialog diri” sebagaimana diungkapkan Taufiq Rhazen, yakni refleksi kritis terhadap perjalanan budaya suatu masyarakat. Dalam konteks ini, kuliner tradisional seperti palopo bukan sekadar hidangan, tetapi juga artefak budaya yang sarat makna historis.
Palopo, bubur olahan susu kerbau murni, telah menjadi penanda identitas masyarakat Sumbawa sejak masa lampau. Meski sempat mengalami masa stagnasi, tradisi pengolahan palopo kini mulai bangkit kembali, terutama di wilayah pedesaan seperti Desa Batu Tering (Kabupaten Sumbawa) dan Taliwang (Kabupaten Sumbawa Barat). Tulisan ini menganalisis keberadaan palopo sebagai kuliner khas Sumbawa melalui pendekatan 5W+1H untuk memberikan tinjauan kritis yang komprehensif.
Analisis Historis Berbasis 5W+1H
- What: Mengenal Lebih Jauh Palopo Khas Sumbawa
Palopo adalah bubur khas yang mencerminkan identitas kuliner masyarakat Sumbawa. Proses pengolahannya sempat terhenti karena keterputusan pewarisan pengetahuan tradisional. Kebangkitan kembali palopo terjadi berkat inisiatif masyarakat, khususnya suku Samawa di pedesaan, yang mengembangkannya dalam bentuk industri rumah tangga.
Berbeda dengan olahan susu sapi, palopo menggunakan susu kerbau murni yang menghasilkan cita rasa khas. Bahan-bahannya meliputi susu kerbau, gula merah, serta air rebusan terong ungu atau getah kayu seperti jeliti dan lita sebagai koagulan alami.
- Why: Membedah Kemiripan dan Perbedaan Palopo
Nama palopo juga ditemukan di wilayah lain seperti Sulawesi Selatan, namun dengan bahan dan bentuk olahan berbeda. Palopo di Sulawesi Selatan berbahan dasar ikan, sedangkan palopo Sumbawa berbahan susu kerbau. Kemiripan istilah ini mengindikasikan adanya kemungkinan keterkaitan historis antara kedua daerah di masa lalu.
Seiring perjalanan waktu, diferensiasi budaya membentuk identitas kuliner yang mandiri di masing-masing wilayah. Dengan demikian, meskipun memiliki nama serupa, palopo Sumbawa tumbuh sebagai entitas kuliner unik dan otentik dengan karakteristik tersendiri.
- Who: Peran Aktor dalam Pelestarian Palopo
Keberlanjutan palopo sebagai warisan kearifan lokal membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Masyarakat lokal berperan sebagai penjaga tradisi, sedangkan pemerintah dan lembaga kebudayaan berperan dalam perlindungan serta pengembangan.
Perlindungan terhadap palopo juga perlu diperkuat melalui pengakuan hak kekayaan intelektual komunal. Sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga kebudayaan menjadi kunci agar palopo tidak hanya lestari secara budaya, tetapi juga terlindungi dari eksploitasi komersial yang tidak etis.
- When: Jejak Waktu Palopo dalam Sejarah Sumbawa
Keberadaan palopo di Sumbawa diperkirakan muncul sejak masyarakat mulai menjinakkan kerbau sebagai hewan ternak, khususnya untuk membajak sawah. Sejak itu, palopo menjadi bagian dari keseharian masyarakat, bahkan disajikan sebagai hidangan kehormatan bagi tamu.
Meskipun sempat meredup selama beberapa dekade, palopo kembali populer seiring dorongan penguatan UMKM oleh pemerintah daerah. Kini, palopo menjadi simbol adaptasi tradisi dalam konteks ekonomi modern—mewujudkan konsep kontinuitas sejarah sebagaimana diungkapkan Taufiq Rhazen.
- Where: Lokasi dan Persebaran Palopo
Saat ini, sentra produksi palopo berpusat di beberapa wilayah seperti Desa Batu Tering, Kecamatan Moyo Hulu, dan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat. Konsentrasi tersebut menandakan bahwa pelestarian palopo masih berakar kuat pada komunitas tradisional. Namun demikian, potensinya untuk dikembangkan lebih luas sangat besar, terutama sebagai produk khas daerah yang bernilai ekonomi.
- How: Strategi Pengembangan dan Revitalisasi Palopo
Pelestarian palopo membutuhkan strategi pengembangan yang terintegrasi. Melalui program pemerintah seperti Desa Berdaya, palopo dapat dijadikan produk unggulan UMKM dengan inovasi kreatif, misalnya pengembangan “Permen Palopo” atau produk turunan lainnya.
Kehadiran pemerintah sangat penting dalam memperkuat rantai ekonomi rakyat serta meningkatkan ketahanan pangan dari sektor peternakan. Dengan pengelolaan kerbau yang berkelanjutan, masyarakat Sumbawa dapat mencapai kemandirian ekonomi di mana palopo menjadi salah satu simbolnya.
Cara Pembuatan Palopo
Bahan-bahan:
Susu kerbau murni
Gula merah
Koagulan alami: terong asam (para) atau getah kayu jeliti/lita
Garam (opsional)
Langkah-langkah:
- Siapkan susu kerbau dalam wadah besar.
- Masak terong asam atau bahan koagulan hingga menghasilkan ekstrak.
- Campurkan ekstrak ke dalam susu secara bertahap sambil diaduk.
- Tambahkan gula merah yang telah diparut dan aduk hingga larut.
- Diamkan campuran selama ±20 menit hingga mengental.
- Saring dari sisa koagulan.
- Tuang ke dalam cetakan tahan panas.
- Diamkan hingga padat (sekitar 2 jam).
- Kukus dengan api sedang selama 15 menit agar gula meresap.
- Angkat dan dinginkan sebelum disajikan.
Penyajian dan Potensi Ekonomi
Penyajian:
Palopo paling nikmat disajikan dalam keadaan dingin, sering kali dipadukan dengan tape ketan (poteng).
Harga Jual:
Produk palopo kemasan cup 150 ml dapat dijual sekitar Rp10.000 per cup, menjadikannya komoditas UMKM yang berpotensi tinggi.
Kesimpulan
Palopo merupakan narasi sejarah yang hidup, menggambarkan keterikatan masyarakat Sumbawa dengan alam dan tradisinya. Dari sajian harian di masa lampau hingga menjadi potensi ekonomi masa kini, palopo membuktikan bahwa kearifan lokal dapat terus bertahan dan beradaptasi.
Tinjauan kritis ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga kebudayaan dalam melestarikan, melindungi, serta mengembangkan palopo. Dengan pendekatan historis yang mendalam, palopo tidak hanya menjadi simbol ketahanan budaya, tetapi juga peluang kemandirian ekonomi yang berakar kuat pada identitas lokal.
