

SUMBAWA NTB, SamantaNews.Com — 25 Juli 2026 – Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pemerintah Kabupaten Sumbawa, dan berbagai pemangku kepentingan menggelar Gladi Lapang Penanggulangan Bencana Banjir di enam desa di Kecamatan Moyo Utara, Kabupaten Sumbawa, Sabtu (25/7). Kegiatan ini menjadi puncak rangkaian Program Karang Tangguh yang bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana dan perubahan iklim.

Gladi lapang tersebut melibatkan sekitar 800 peserta yang berasal dari enam desa di Kecamatan Moyo Utara. Berbagai unsur turut ambil bagian dalam simulasi, di antaranya BPBD Kabupaten Sumbawa, Tim SAR, TRC Penanggulangan Bencana, Pramuka Peduli, PMR PMI, Tim Siaga Bencana Desa (TSBD), TNI, Polri, tenaga kesehatan, serta unsur relawan dan masyarakat.
Beragam skenario penanganan bencana diperagakan dalam simulasi tersebut, mulai dari aktivasi sistem peringatan dini, koordinasi pos komando, evakuasi korban banjir, penyelamatan korban hanyut di sungai, penanganan korban luka, pengelolaan pengungsian, hingga pelayanan bagi kelompok rentan. Simulasi ini bertujuan menguji kesiapan seluruh unsur agar mampu bertindak cepat dan terkoordinasi saat terjadi bencana yang sebenarnya.

Ketua MDMC Pimpinan Pusat Muhammadiyah, H. Budi Setiawan, ST, mengatakan bahwa gladi lapang merupakan bagian penting dalam membangun budaya kesiapsiagaan masyarakat.
“Gladi lapang bukan sekadar latihan, tetapi merupakan investasi kemanusiaan. Ketangguhan masyarakat lahir dari pengalaman, koordinasi, dan budaya siaga yang terus dibangun bersama. Muhammadiyah meyakini bahwa masyarakat adalah garda terdepan dalam penyelamatan jiwa ketika bencana terjadi, sehingga penguatan kapasitas masyarakat menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada BNPB, Pemerintah Kabupaten Sumbawa, pemerintah desa, relawan, serta seluruh mitra yang telah berkolaborasi dalam membangun ekosistem kesiapsiagaan bencana di tingkat desa.

Sementara itu, Program Manager Karang Tangguh MDMC, Priyo A. Sancoyo, menjelaskan bahwa gladi lapang merupakan tahapan evaluasi dari berbagai pelatihan yang sebelumnya telah dilaksanakan, mulai dari penyusunan rencana kontinjensi desa, pemetaan risiko, hingga penguatan kelembagaan desa.
“Seluruh proses yang telah dilakukan melalui Program Karang Tangguh diuji dalam gladi lapang ini. Kami ingin memastikan bahwa sistem yang telah dibangun benar-benar dapat dijalankan oleh masyarakat, mulai dari penyampaian informasi, pengambilan keputusan, koordinasi antar unsur, hingga evakuasi warga,” jelasnya.
Plt. Deputi Bidang Pencegahan BNPB RI turut mengapresiasi pelaksanaan gladi lapang tersebut. Menurutnya, kesiapsiagaan masyarakat merupakan investasi paling efektif dalam menekan risiko dan dampak bencana.
“Pengurangan risiko bencana harus dimulai dari tingkat komunitas. Ketika masyarakat memahami ancaman, mengetahui perannya, dan mampu berkoordinasi dengan baik, maka potensi korban jiwa maupun kerugian akibat bencana dapat ditekan secara signifikan. Gladi lapang seperti ini merupakan praktik baik yang perlu terus dikembangkan di berbagai daerah,” katanya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan enam desa di Kecamatan Moyo Utara semakin siap menghadapi ancaman banjir dengan sistem koordinasi yang lebih baik, masyarakat yang terlatih, serta budaya kesiapsiagaan yang terus tumbuh di tingkat desa.
Program Karang Tangguh yang diinisiasi MDMC PP Muhammadiyah menjadi contoh nyata kolaborasi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, relawan, dan masyarakat dalam membangun desa yang tangguh terhadap bencana, sekaligus mendukung pembangunan yang aman, inklusif, dan berkelanjutan.(SN)
