
SamantaNews.Com
Dulu, anak-anak tidak membutuhkan gawai untuk menghabiskan waktu. Di halaman rumah, lapangan, atau tanah kosong, mereka berkumpul memainkan permainan rakyat seperti petak umpet, gobak sodor, kelereng, engklek, lompat tali, hingga permainan tradisional lainnya.
Permainan sederhana itu ternyata bukan sekadar hiburan. Di dalamnya ada banyak pelajaran, belajar bekerja sama, mengikuti aturan, menghargai teman, menerima kekalahan, berkomunikasi, bergerak aktif, dan menyelesaikan masalah bersama.
Kini, perlahan pemandangan itu semakin jarang terlihat. Permainan rakyat mulai tergantikan oleh game online. Anak-anak lebih sering berhadapan dengan layar daripada berkumpul dan bermain bersama di luar rumah.
Lantas, apakah permainan rakyat lebih mendidik daripada game online? Atau justru game online lebih sesuai dengan perkembangan anak-anak zaman sekarang?
Jawabannya mungkin bukan sekadar memilih salah satu. Game online juga dapat memiliki sisi positif jika dipilih dengan tepat dan dimainkan secara terbatas. Beberapa permainan dapat melatih strategi, konsentrasi, kreativitas, bahkan kemampuan memecahkan masalah. Namun, penggunaan yang berlebihan tentu perlu diperhatikan.
Sementara itu, permainan rakyat memiliki keunggulan yang sulit digantikan layar: interaksi langsung. Anak belajar membaca ekspresi teman, berkomunikasi, bergerak, bekerja sama, dan merasakan kebersamaan secara nyata.
Mungkin yang perlu kita pikirkan bukan bagaimana menghapus game online dari kehidupan anak, tetapi bagaimana mengembalikan keseimbangan. Biarkan anak mengenal teknologi, tetapi jangan sampai mereka kehilangan permainan yang menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya kita.
Karena sebelum anak-anak mengenal dunia melalui layar, mereka pernah belajar tentang persahabatan, sportivitas, kerja sama, dan kebahagiaan hanya dari sebuah halaman sederhana.
Pertanyaannya sekarang: apakah kita akan membiarkan permainan rakyat hanya menjadi cerita masa lalu, atau kembali mengenalkannya kepada generasi berikutnya? (SN)
