
SamantaNews.com – Paradigma Arus Balik Masyarakat Pinggiran pada era kontemporer dapat dimaknai sebagai transformasi orientasi gerakan dari perebutan ruang-ruang kekuasaan menuju penguatan ruang-ruang kehidupan masyarakat.
Jika pada era 1990-an paradigma ini lahir sebagai kritik terhadap sentralisasi negara dan dominasi elite, maka pada masa kini arus balik menemukan bentuk baru melalui pembangunan desa, pemberdayaan komunitas, ekonomi kerakyatan, serta tata kelola pemerintahan lokal yang partisipatif.
Arus balik tidak lagi sekadar dipahami sebagai kembali kepada masyarakat pinggiran, tetapi juga sebagai mengembalikan pusat perubahan kepada komunitas lokal. Desa, kelompok tani, koperasi, pesantren, UMKM, komunitas pemuda, dan organisasi masyarakat menjadi arena utama perjuangan kader.
Dalam konteks tersebut, semakin banyak kader PMII yang mengabdi sebagai kepala desa, perangkat desa, pendamping masyarakat, akademisi, birokrat, aktivis pemberdayaan, maupun pelaku usaha sosial dapat dipandang sebagai salah satu bentuk aktualisasi paradigma arus balik. Mereka tidak lagi hanya mengartikulasikan kritik terhadap kebijakan negara, tetapi juga terlibat langsung dalam merancang, melaksanakan, dan mengawal pembangunan dari tingkat paling bawah.
Paradigma ini juga mengalami perluasan makna. Jika dahulu masyarakat pinggiran identik dengan kelompok yang termarginalkan secara politik, kini masyarakat pinggiran juga mencakup mereka yang tertinggal dalam akses pendidikan, teknologi, ekonomi digital, ketahanan pangan, dan kualitas pelayanan publik. Karena itu, perjuangan kader tidak hanya berbentuk advokasi, tetapi juga inovasi sosial, penguatan kelembagaan, transformasi digital desa, hingga pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal.
Dengan demikian, arus balik era kontemporer dapat dirumuskan sebagai gerakan transformasi sosial yang menempatkan desa dan komunitas lokal sebagai pusat peradaban baru, di mana kader PMII berperan sebagai fasilitator perubahan, penggerak pemberdayaan, dan penjaga nilai-nilai keadilan sosial.
Paradigma ini menunjukkan bahwa membangun Indonesia dari pinggiran bukan sekadar slogan, melainkan strategi gerakan yang mengembalikan masyarakat sebagai subjek utama pembangunan dan demokrasi. (AH)
Alwan Hidayat
Ketua Umum PC PMII Sumbawa Masa Khidmat 2007–2008
Kepala Desa Batu Tering Periode 2020–2028
